01 Mei 2014

IMD, ASI, Sufor, dan Alat Bantu Menyusui

Hari ini usia adek tepat 4 Minggu. Alhamdulillah, adek sehat dan baik-baik saja. Rewel juga jarang. Paling kalau rewel karena minta ASI (air susu ibu) emaknya atau karena pipis/pup.

Ngemeng-ngemeng soal ASI. ASI memang penting untuk bayi dan setiap ibu sudah pasti (bisa) memproduksi ASI. Benarkah?

Jujur saja saya kesulitan memproduksi ASI. Awalnya, dulu ketika IMD (inisiasi menyusui dini) saya sudah mencoba untun menyusui adek. Sampai adek nangis karena ASI saya belum keluar dan puting yang tidak keluar. Sebentar! Ini bukan hal yang tabu ya. Bagi (calon) ibu seperti saya informasi seperti ini sangat penting sekali. Oke, lanjut!

Iya, waktu itu ASI saya belum mau keluar dan puting juga susah untuk disusu oleh adek. Alhasil, karena kasihan, saya meminta bidan untuk menyusui adek dengan susu formula (sufor).

Teori dan penelitian membuktikan—dari yang saya baca di web-web kesehatan (melalui jejaring internet), bahwa seorang (calon) ibu pasti bisa menghasilkan ASI dan menyusui bayinya. Praktiknya, hal ini memang (agak) susah. Banyak (calon) ibu yang kesusahan dan merasa bersalah karena tidak bisa memberikan bayinya ASI. Contoh kasus, saya sendiri. Daripada ngambil kasus orang lain toh.

Nah, dari Informasi yang saya baca di web-web kesehatan tersebut menyatakan bahwa seorang ibu pasti bisa menghasilkan ASI dan menyusui bayinya. Dalam kasus saya, banyak hal yang bisa menyebabkan ASI tidak lancar keluar. Di antara hal-hal yang banyak itu, hal yang paling mengena di hati saya adalah posisi saat menyusui. Kenapa?

Posisi saat menyusui banyak berpengaruh pada kuantitas ASI yang keluar. Hal ini juga dipengaruhi oleh posisi bayi dalam menyusu payudara ibu dan atau posisi ibu dalam menyusui bayi. Saya sendiri mengetahui hal ini (lagi-lagi) dari internet. Posisi ibu yang salah atau kurang nyaman saat menyusui mengakibatkan ASI yang keluar hanya sedikit. Oleh karena itu, dianjurkan bagi ibu untuk mengetahui tatacara menyusui yang baik. Sayangnya, ketika saya melahirkan di bidan, bidan tersebut tidak memberitahu saya. Mungkin bidang tersebut tahu, tetapi karena pasien tidak bertanya jadinya tidak diberi tahu. Tahukah Anda, puting yang lecet itu disebabkan oleh posisi menyusui yang salah?

Lanjut mengenai posisi bayi ketika menyusu. Menurut teori (lagi-lagi teori), agar ASI keluar dengan lancar, bayi seharusnya menyusu pada payudara ibu. Jadi, bukan hanya pada puting ibu. Jadi ketika bayi melahap puting ibu, usahakan bayi juga melahap bagian areola (bagian yang berwarna hitam pada sekitar puting ibu).

Yang di atas itu menurut teori dan penelitian yak. Faktanya, banyak ibu-ibu di sekitar saya yang tidak bisa menyusui anaknya karena produksi asinya sedikit atau bahkan tidak keluar sama sekali. Nah loh? Aneh kan? Contoh kasus: saya lagi :D

Awal mula memang saya tidak bisa menyusui adek. Hal ini berlangsung selama lebih kurang empat hari. Banyak yang bilang karena puting saya yang terlalu pendek—ini waktu saya belum mengetahui tatacara menyusui yang baik. Akhirnya saya membeli puting sambungan. Padahal puting sambungan ini juga ternyata tidak bagus untuk produksi ASI. Dan ini juga tidak berhasil. Adek sudah lama menyusu tapi ASI juga tidak mau keluar. Saya dan adek tidak bisa bekerja sama dengan baik. Lalu atas saran orang-orang juga, saya akhirnya beli pompa ASI—dan beberapa hari ini saya baru tahu kalau memakai pompa juga tidak baik untuk kesehatan payudara. Ya, memang pompa ASI lumayan agak membantu. ASInya mau keluar meski sangat sedikit sekali. Saya taruh di gelas hanya dapat 1/20-nya gelas. Jadi sangat sangat dan sangat sedikit sekali.

Saya hampir putus asa. Tapi suami dan keluarga tetap mendukung agar adek bisa menyusu dengan ASI. Tak urung, saya kadang juga sedih dan menangis. Apa lagi adek sudah nyaman dengan sufornya. Tapi saya tetap bertekad ingin menyusui adek. Meskipun sedikit tak apa, nanti bisa diselingi dengan sufor.

Kurang lebih satu minggu saya masih menggunakan pompa dan puting sambungan. Masih mencoba-coba. Memang ada sedikit peningkatan produksi ASI dari hari ke hari. Meski puting lecet karena kurang nyaman juga pakai puting sambungan. Hingga akhirnya saya mengakhiri semuanya *dibikin dramatis*. Saya tidak pakai puting sambungan dan pompa ASI lagi ketika mengetahui hal-hal buruk yang terjadi akibat alat bantu tersebut. Lantas saya memakai apa?

Setelah mengetahui teori-teori dan penelitian yang saya ceritakan di atas (tatacara menyusui yang baik) saya mencoba tidak memakai alat bantu apapun. Awalnya memang susah karena adek sudah terbiasa pakai botol susu dan sufor. Sampai akhirnya adek bisa menyusu juga pada payudara saya. Adek dan saya bisa bekerjasama dengan sangat baik, meski sampai sekarang ASI yang saya produksi masih belum bisa memenuhi kebutuhan adek. Sehingga di samping adek menyusu dengan ASI, adek juga minum sufor dari botol susu.


Semoga tulisan ini berguna untuk (calon) ibu-ibu yang kesulitan untuk menyusui ASI bayinya. Semangat ya, Mom! Jangan pantang menyerah :* *bighug*

30 April 2014

Saat Jarit Sudah Terlalu Mainstream (Pascamelahirkan)


Dalam posting kemarin saya sudah membahas mengenai anjuran menggunakan jarit pascamelahirkan. Kebanyakan orang desa menganjurkan seorang ibu untuk menggunakan jarit dan udet (semacam korset). Kenapa harus pakai jarit? Biar langkahnya gak panjang-panjang. Supaya apa? Supaya gitu dah. Hoho, saya agak kurang ini menjelaskan ini. Jadi begini ….

Orang zaman dulu sangat mengutamakan keharmonisan rumah tangga. Jadi banyak hal yang direka-reka sendiri untuk kebaikan ibu pascamelahirkan. Seperti jarit di atas. Mereka mengangsumsikan pakai jarit supaya langkahnya tidak panjang. Kenapa? Agar kerapatan daerah kewanitaan tetap terjaga pascamelahirkan. Nah, seperti itulah.

Saya coba searching informasi via internet. Sebenarnya bukan hal itu yang diutamakan. Pascamelahirkan pun seorang ibu boleh menggunakan celana. Tapi jika pengin praktis, lebih nyaman menggunakan rok. Kalau mau ke belakang tinggal nyingkap doang :P

Terlepas dari itu semua saya kurang tahu apakah panjangnya langkah kaki berpengaruh pada kerapatan daerah kewanitaan pascamelahirkan. Saya baca-baca di web-web kesehatan belum ada yang membahas hal ini. Tapi secara abstrak saya mendapati banyak alasan bahwa pengaruh panjang langkah kaki dengan kerapatan daerah kewanitaan ini hanyalah mitos yang belum terbukti. Karena hal ini juga dibarengi dengan seorang ibu pascamelahirkan dilarang jongkok sebelum masa nifas berakhir. Alasan-alasan yang menguatkan diantaranya;

Bahwa pascamelahirkan beberapa jam setelah melahirkan ibu dianjurkan untuk senam nifas. Nah gerakan senam nifas ini (bisa dilihat di web tetangga) menggunakan gerakan-gerakan kaki juga. Padahal orang (di desa) jaman dulu lebih mengutamakan ibu hamil untuk istirahat total. Bahkan kata ibu saya, dulu selepas maghrib seorang ibu pascamelahirkan harus sudah di atas tempat tidur. Hal ini berlangsung selama selapan (36 hari) atau 40 hari.

Bahwa jongkok-berdiri pascamelahirkan lebih cepat mengembalikan kekuatan otot pinggul dan mengecilnya rahim. Nah lho, padahal orang jaman dulu menganjurkan ibu hamil tidak jongkok selama selapan hari. Katanya hal ini berpengaruh pada kerapatan daerah kewanitaan. Berbanding terbalik kan?

Tapi kata ibu saya, anjuran-anjuran orang jaman dulu semuanya tidak salah, juga tidak semuanya benar. Mereka hanya kawatir jika ibu pascamelahirkan setelah itu hubungan rumah tangganya tidak harmonis lagi. Tau sendiri kan ya, kebanyakan ibu pascamelahirkan bentuk badannya banyak berubah. Dan ibu saya juga mengatakan ibu pascamelahirkan sekarang ini justru sehat-sehat gak kayak orang jaman dulu. Iya, karena apa? Karena banyak anjuran yang salah kaprah, menjadikan ibu jaman dulu bukannya cepat pulih malah sebaliknya. Lama pulihnya.


Yak, tulisan ini hanya sebatas pemikiran saya yang kurang sependapat dengan mitos mengenai pemakain jarit (kalau udet/korset saya setuju) dan tidak boleh jongkok. Kembali ke pribadi masing-masing lagi, apakah mau mempercayai mitos tersebut tanpa mengetahui alasan ilmiahnya atau hanya mempercayainya tanpa berpikir alasannya, dan atau tidak percaya sama sekali :)

18 April 2014

Lepas Jarit dan Mitos Suleten

18 april 2014

Hiihihi, saya agak girang sekarang. Kenapa? Saya sudah diperbolehkan pakai rok. Siapa yang memperbolehkan? Tentu saja saya sendiri. Hmm, ini sudah hari ke-16 pasca melahirkan. Saya sudah merasa baikan. Darah nifas pun juga sudah jarang keluar. Rasanya benang jahitan pun sudah menghilang dengan sendirinya. Ya, lumayan sekarang saya sudah agak santai ketika BAB. Hehehe. Cuman masih agak was-was aja karena minum jamu, BAB saya agak lumayan keras. Padahal sudah banyak minum air putih dan makan sayur/buah. Its ok, tak apa! Yang penting saya sudah merasa oke, dan saya sudah banyak membantu di rumah meski belum diperbolehkan keluar rumah.

Yak, saya baru diperbolehkan keluar rumah kalau usia bayi sudah selapan atau 38 hari. Hoho, Alhamdulillah, pasti saya sudah sangat oke sekali usai selapan. Bisa kerja lagi di pabrik. Bisa gajian lagi. Haha. Yaiyalah sekarang mikirin gaji, anak mau dikasih makan apa kalau gak kerja :3

Eh, sekarang sudah pakai rok ya tapi kalau malam saya tetep minta pakai jarit. Kenapa? Takut kebablasan (kakinya) kalau tidur. Memang saya sudah baikan, tapi tetep jalan lahir masih belum sehat seperti sebelum melahirkan. Jadi tetep jaga attitude ketika melakukan aktifitas, seperti berjalan, duduk, tidur, dan sebagainya.

Yang sekarang bikin saya lumayan sedih, si adek lagi kena penyakit kulit. Gak tau gegara apa. Saya cari-cari di internet, banyak hal yang bisa menyebabkan bayi bisa terserang penyakit kulit. Entah itu alergi, bakteri, atau yang lain. Nah yang agak bikin saya kesel, ini orang-orang pada ngomongin mitos lagi -_- yak, lagi-lagi berhubungan dengan mitos. MEreka menyebutnya suleten. Atau kalau saya lihat di google, namanya eksem apa eksim gitu. Bentuknya merah, kalau si adek terletak di paha dalam, terus ada gelembung berisi cairan. Mitosnya hal ini terjadi karena ada peralatan si adek yang terbakar. Bisa saja popok, tisu/kapas bekas cebok/kotoran BAB, dan lain-lain, yang pasti ada bagian dari peralatan si adek di sana/yang keluar dari tubuh si adek.

Berhubung saya gak percaya karena gak masuk akal, saya pun diem aja -_- untungnya kemarin waktu si adek puputan, Alhamdulillah ada yang ngasih kado paket box produk cuss*ns. Di dalamnya ada krim/salep untuk mengatasi iritasi kulit. Alhasil saya pakaikan itu krim ke kulit si adek yang kemerahan/melepuh tersebut. Alhamdulillah sekarang sudah mulai kering. Kasihan adek kalau BAK/BAB kadang nangis kalau kulit yang kemerahan tersebut terkena tisu basah atau pas mandi kena air :(

Lekas sembuh ya, sayang. Mom’s love you :*


13 April 2014

Seputar Mitos Zaman Dulu dan Fakta Pasca Melahirkan

Ini hari ke-11 pasca melahirkan. Boring? Bangetttttt. Beginilah di desa, nasib ibu pasca melahirkan. Dikurung selama selapan. Yaitu sekitar 5 Minggu, atau lebih kurang 36 hari. Kenapa begitu? Saya juga gak tahu. Pokoknya orang tua zaman dahulu (zadul) punya peraturan seperti itu. Oh bukan, bukan hanya itu saja peraturannya, tapi banyaaaaaaaaak sekaliiiiiii.

Minum obat dan jamu
Ini obat yang diberikan oleh bidan. Jadi harus dihabiskan. Setelah itu dilanjutkan dengan jamu yang dibeli sendiri. Kalau jamu saya mau lah ya. Karena demi kesehatan juga. Toh, herbal. Minum jamu sebenarnya dianjurkan hingga selapan dan diminum 2 kali sehari. Tapi berhubung emak saya sudah agak modern, jadinya setengah selapan saja tak apa hihihi. Terus minumnya juga diperbolehkan sekali sehari karena menghindari gangguan BAB.

Pakai udet (bengkung/stagen) dan jarit (selendang)
Pasca melahirkan ibu diwajibkan memakai udet. Gunanya untuk menahan perut. Pasca melahirkan perut ibu akan terlihat “menjijikkan” dengan gelambir di mana-mana hehe. Ini juga saya mau saja. Karena lebih enak kalau pakai udet. Perut rasanya kenceng.
Kenapa pakai jarit? Kenapa bukan rok? Saya juga kurang tahu. Cuman setelah saya memakai jarit ini, seperti ini pengalaman saya. Mudah dipakai dan mudah dibuka sewaktu-waktu ketika kebelet BAB atau BAK. Sewaktu dipakai, langkah kaki tidak jauh-jauh dan ketika duduk, paha ngumpul karena sempit. Jadi duduknya teratur.

Pakai param (bobok)
Param ini ada beragam. Ada param untuk badan, yaitu bedak dingin. Ada param yang untuk perut—entah apa namanya lupa. Ada param untuk kening *jadi waktu pakai ini itu keningnya kayak ada pelanginya warna hijau tua :D*. Sebenarnya yang paling ngefek waktu dipakai itu cuman bedak dingin sama param untuk perut. Waktu pakai bedak dingin rasanya badan jadi adem. Ya, walaupun harus rela tiap hari seluruh badan “dilukis” warna putih tiap habis mandi pagi dan sore. Yang namanya muka sudah kayak badut abeesss tiap habis mandi :D. Juga param untuk perut, perut jadi anget. Gak rugi pakai ini, meski baunya gak terlalu enak.

Tidak boleh tidur siang
Saya sempat marah dan jengkel waktu ditegur karena waktu itu saya ketiduran sebentar. Niatnya sih memang mau tidur, tapi sejam aja gitu. Eh baru 15 menit, saya dimarahin karena tidur siang -_- jengkel banget toh! Akhirnya, sampai sekarang saya tak pernah tidur siang lagi. Bukannya karena percaya mitos/faktanya, tapi karena saya malas dan jengkel kalau ditegur lagi. Mitosnya, kalau pasca melahirkan ibu hamil tidur siang, pipi/muka akan bengkak-bengkak. “Yaiyalaaahhh!” gerutu saya dalam hati waktu itu. Biasanya kalau orang habis bangun tidur kan memang mukanya agak sembeb. Setelah saya browsing di internet—karena cuma ini yang bisa saya andalkan—yang bilang gitu cuma dukun bayi. Saya tidak menemukan alasan ilmiah. Toh malah banyak yang menyarankan ibu pasca melahirkan lebih baik banyak istirahat ataupun tidur siang juga gak masalah asalkan masih dalam batas yang wajar.

Tidak boleh keluar rumah sebelum selapan
Nah ini dia! Saya menjadi tahanan rumah selama 38 hari. Dan sekarang baru berapa hari? *ngitung* 11 hari. Oke! Masih lama!!!! Menurut saya nih, larangan ini dibuat agar si ibu tidak kelayapan dan merawat bayinya. Menurut saya lagi nih, masa nifas seorang ibu pasca melahirkan kan 40 hari, jadi mungkin si ibu diharapkan bisa fokus dalam menikmati masa nifas. Sehingga ibu dilarang keluar rumah agar tidak tergoda dengan dunia luar. Ini cuma pikiran saya aja sih, kalau salah ya gak tahu jugaak :D hahaha.

Selain hal-hal tersebut, masih banyak lagi larangan dan anjuran dari orang tua zadul. Mitos mitos yang bisa dijelaskan dengan ilmiah dan juga yang tidak bisa dijelaskan dengan logika sekalipun. Misalnya nih, saya coba jelasin satu-satu.

Jangan minum air putih terlalu banyak nanti bayinya pilek
-_- saya geregetan waktu denger nenek saya bilang kayak gitu. Saya cuman diemmm aja, padahal dalam hati rasanya saya pengen nyerocos ngejelasin pentingnya minum air putih. Gini ya, Nek. Sebenarnya, yang bikin bayi pilek itu bukan air putihnya, tapi karena kuman atau mungkin air putihnya kurang higienis, atau mungkin botol atau lingkungan bayi yang menyebabkan bayi pilek. Justru, kebutuhan air tetap harus dicukupi min 8 gelas/hari. Biar saya kalau BAB lancar, Nek. Biar gak dehidrasi juga karena sering keringetan. Tapi apa gunanya. Saya ngejelasinpun Beliau tidak akan percaya. Jadi saya diem aja. Cuman  bisa ngasih senyum palsu :)

Jangan makan sayur
Aaaak! Saya nahan amarah waktu tetangga saya bilang begitu. Katanya, “ya memang seger kalau habis melahirkan makannya pakai kuah dan sayur! Dulu lhoh, saya makannya cuma nasi sama tempe. Liat saja nanti badanmu pasti bengkak (makin gendut)!” Ya ya ya, saya cuma bisa ngelus dada. Tetangga saya yang saya cintai, saya juga butuh asupan vitamin dari sayuran. Anak saya juga butuh asi. Bekas jahitan saya juga butuh protein. Kalau saya tidak makan sayuran dan cuma makan nasi sama lauk, mana 4 sehat 5 sempurnanya? Pun saya sudah tidak minum susu lagi. Kalau saya tidak makan sayuran, saya bisa pingsan nahan sakit waktu BAB (ini lebay :D). Tetangga saya yang baik hatinya, sebenarnya yang mungkin bisa bikin saya gendut itu bukan sayurannya, tapi bisa dari pola makan dan makanan yang dimakan. Contoh nih, tiap makan tambah dua piring. Itu bisa bikin saya gendut. Terus, kalau tiap kali makan pakai santan. Ini juga bisa bikin saya tambah gendut bahkan mungkin kolesterol. Dan masih banyak lagi. Asalkan saya bisa menjaga asupan gizi dan pola makan, insyaallah berat bedan tetap stabil. Toh yang namanya Ibu menyusui bukannya disuruh makan banyak ya? :D

Jangan menekuk kaki ketika tidur
Yang ini saya setuju. Kenapa? Setelah saya cari-cari info dari blog dokter/bidan/web kesehatan sebelah, pasca melahirkan dianjurkan ibu tidak terlalu lama menekuk kaki. Hal ini dikarenakan kaki yang ditekuk akan menghambat aliran darah. Sehingga dapat menyebabkan kaki bengkak bahkan varises. Kenapa ibu pasca melahirkan yang dilarang? Karena peredaran darah ibu pasca melahirkan masih belum stabil diakibatkan ada bagian organ tubuh yang “trauma”. Lebih jelasnya bisa browsing sendiri di web-web kesehatan :D

Pasti dulu kamu sering cuci kaki sama bekas air cucian baju!
Saya maklum, Nenek saya memang sudah tua. Usianya lebih dari 75 tahun. Punya 5 orang anak, cucunya sudah tidak terhitung, dan buyutnya sekarang sudah 15. Jadi memang “pengalaman”-nya dalam hal bayi memang sudah banyak. Tapi yang saya gak terlalu suka, Nenek saya ini kalau ngasih petuah/larangan/anjuran gak pakai alasan ilmiah. Nek, sekarang zaman sudah berubah. Saya maklum kalau yang namanya anak muda harus nurut sama yang tua. Tapi kalau gak ada penjelasannya? Ya, walaupun saya tahu, mungkin ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Tapi setidaknya berilah saya sedikit “pencerahan”! Seperti kasus ini: APA HUBUNGAN KAKI SEMBET PASCA MELAHIRKAN DENGAN DULU (SEBELUM MENIKAH DAN PUNYA ANAK) PERNAH CUCI KAKI SAMA BEKAS AIR CUCIAN BAJU ATAU TIDAK? Ini yang paling gak masuk diakal -_- *sing sabar, San* Kemarin saya dirasani (dipergunjingkan) sama nenek, “dulu pasti kamu sering cuci kaki pakai bekas cucian baju, makanya kakimu sekarang (pasca melahirkan) sering sembet.” Dan seperti biasa, saya cuma ngelus dada.

Masih banyak hal lain lagi, yang “aneh-aneh” dan tidak bisa dianalisis dengan logika. Kalau saya curahkan semua di sini, isinya mungkin bercampur dengan (sedikit) kemarahan saya atas mitos-mitos zadul yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara riil T.T Seandainya para orang tua ini mengerti bahwa saya pun juga punya alasan dan pembelaan diri kenapa saya tidak mau menuruti keinginan mereka.


Mudah-mudahan suatu saat, kelak saya punya cucu, saya tidak secerewet mereka. Semoga saya bisa memutus “tali” mitos ini. Semoga … :)

12 April 2014

Indahnya AnugerahMu--Anak Pertama

adek usia 4 hari
Alhamdulillah … Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas anugerah tak ternilai yang diamanatkan kepada kami. Setelah 9 bulan lebih 6 hari mengandungnya :’) #terharu

Sebenarnya sudah sejak lama pengin update blog lagi. Sayangnya, koneksi internet sudah diputus sama kakak. Sedangkan mau beli modem juga masih mikir, takutnya nanti di rumah gak ada signal. Saya trauma dulu pernah punya modem pakai provider tertentu ternyata lemot abeeesss dan terkadang malah gak ada signal sama sekali. Maklum, ehm … dusun.

Banyak banget yang pengin saya ceritain. Mulai dari tendangan pertama janin hingga proses gimana akhirnya ia terlahir di dunia ini dan berada dalam dekapan saya :’) sungguh tak terkira bahagianya.

Menginjak usia kandungan ke-sembilan bulan, tendangan-tendangan mulai menguat. Rasanya si kecil sudah tak sabar untuk terlahir di dunia. Hihihi, Ibu-Ayahnya sebenarnya yang tak sabar. Kesibukan kerja masih saya jalani seperti biasa. Karena kalau cuman duduk-duduk, istirahat, bengong di rumah, kaki malah pada bengkak. Jadi mending dibawa enjoy buat kerja :D hingga pada hari Minggu (30/3/14) pagi saya mengeluarkan flek dan setelahnya mengalami kontraksi. Mulai agak was-was juga karena kehamilan pertama. Browsing-browsing ke internet, memang seperti itu persiapan tubuh dalam menyambut persalinan. Tapi perasaan khawatir masih ada. Akhirnya, Bapak-Ibu ngajak ke klinik bidan supaya jelas statusnya.

Pukul 10.00 pagi berangkat ke klinik bidan. Sayangnya Bu Bidan yang dicari tidak ada. Adanya bidan (asisten). Ya sudah, dari pada balik. Diperiksa sama bidan tersebut katanya, “tidak apa-apa. Itu ciri-ciri mau melahirkan. Ditunggu saja karena baru bukaan satu.”

Saya coba cuek. Masih bantu pekerjaan rumah, masih mondar-mandir ke pabrik, pokoknya kalau bisa jangan diem. Tapi kalau capek ya tetep istirahat. Hehehe.

Malamnya, Minggu malam Senin, kontraksi makin sering. Tidur pun terganggu. Tetep ngandalin info dari internet, saya coba jalan keliling kamar—padahal kamar juga gak besar :D—mondar-mandir, ngurangi rasa tegang punggung saat kontraksi.

Paginya, Senin (31/03/14), disuruh istirahat saja sama Ibu. Tapi gak mau. Dibawa tidur atau duduk malah gak enak semua rasanya. Jadinya tetep dipakai jalan-jalan mondar-mandir di rumah meski gak bantuin pekerjaan rumah. Pas waktu kontraksi pasti keliatan, mukanya jadi aneh karena nahan nyeri punggung :D Sorenya saya juga masih pergi ke pabrik. Hehe, dasarnya gak bisa diem di rumah.

Senin malam, waktu tidur berkurang lagi. Kontraksi makin sering. Mondar-mandir di kamar juga makin sering. Alhasil tidur setengah jam, bangun seperempat jam. Begitu berulang, sampai pagi hari masih terkantuk-kantuk.

Selasa (1/04/14) pagi, gegara kurang tidur, mata jadi gak enak. Penginnya dibawa tidur. Tapi kontraksi dan punggung gak bisa diajak kompromi. Pilih mandi pagi biar seger. Sebelum mandi, ternyata saya mengeluarkan lendir dan darah cokelat. Saya lap pakai tisu. Berhubung penasaran, saya bilang ke Ibu saya. Beliau bilang, “memang begitu. Itu tanda-tanda mau melahirkan.” Oke! Saya mandi dengan perasaan masih was-was. Tapi saya sadar, janin baik-baik saja karena saya masih merasakan tendangan-tendangan.

Siangnya saya coba untuk tidur karena mata sudah tidak bisa diajak kompromi. Alhamdulillah, si dedek bisa diajak kompromi. Kontraksi berkurang. Seneng? Lumayan :D soalnya sakitnya berkurang, hehe.

Seperti biasa pukul 08.00 malam saya sudah tiduran. Masih merasakan kontraksi-kontraksi. Tapi masih dibawa enjoy. Mulai tiduran, tiba-tiba kontraksi mulai menyerang. 10 menit tidur, 30 menit kontraksi. Aaaak sakitnya gak kebayang waktu itu. Akhirnya gak kuat karena kontraksi makin sering.

Akhirnya, tengah malem bangunin Ibu-Bapak minta tolong diantrin ke klinik. Ibu ngajak Mbak Sis. Saya bangunin suami karena masih tidur. Berhubung di rumah cuman ada Wulan, jadinya suami disuruh jaga rumah saja. Nanti kalau memang lahiran dikabari dan nyusul ke klinik. Oke!

Sampai klinik diperiksi Bu Bidan, sudah bukaan 3. Rasanya punggung kayak dipaku, tegang banget waktu kontraksi. Pukul 12, pukul 1, pukul 2, pukul 3 terlewati sangat lamaaaaaaaaa dan gak bisa tidur karena kontraksi datang tiap 15 menit. Saya ditemani 3 bidan (asisten) waktu itu. Sekitar pukul 2 suami datang ke klinik.

Pukul 4 pagi (2/04/14) akhirnya diperiksa Bu Bidan lagi. Sudah waktunya, tinggal nunggu sebentar lagi. Saya sudah tidak tahan lagi, akhirnya saya dibolehin ngeden sama bu Bidannya. Kok ngeden? Iya, ngeden. Ngeden kayak orang mau BAB. Akhirnya, setelah ngeden-ngeden hampir satu jam, tangisan itu terdengar jugakkkkk :’)

Suasana haru datang tiba-tiba. Rasa sakit saat kontraksi terbayar sudah. Bahagianya saat mendengar tangisan pertama si kecil gak ada tandingannya. Subhanallah, rasanya amazing sangatttttt meskipun meninggalkan 6 jahitan di jalan lahir—lahiran normal :D

Alhamdulillah, atas izin Allah, lahir putra kami yang pertama Naufal Kenzie Safaraz pukul 05.50 WIB, hari Rabu, 2 April 2014 dengan berat 2,90 kg dan panjang 47 cm :’) Semoga kelak engkau menjadi putra sholeh seperti namamu, Nak. Itu doa kami. Jadilah pemimpin baik yang dermawan dan terhormat. Amin :’)

Tulisan ini saya persembahkan untuk buah hati saya yang pertama. Ini untukmu, Nak. Jika kelak kamu dewasa, lantas kamu ingin tahu bagaimana ibu melahirkanmu, dengan bangga ibu akan berkata, “Bukalah blog ibu nak. Archive di bulan April 2014. Di sana ada tulisan tentang kelahiranmu.” Begitu. Jadi ibu tak perlu berpanjang kali lebar hingga berbusa-busa untuk menceritakan kisah ini kepadamu, Nak. Atau mungkin nanti cucu-cucu ibu ingin juga membaca kisah ini? Ah, sungguh pede sekali ibumu ini, Nak :P

03 September 2013

Kehidupan Baru - 9 Minggu

Alhamdulillah, bisa ngisi blog lagi. Setelah sekian lama :D

Ada yang pernah bilang ke saya, bahwa manusia tak kan selama menjadi kecil. Dalam artian, tidak selamanya manusia menjadi anak-anak yang masih menggelayuti orangtuanya. Saya menyetujuinya. Bahkan meskipun sekarang saya masih menumpang di rumah orangtua saya meski sudah mempunyai suami, mungkin saya akan tetap merasa menjadi seorang yang kecil (untuk urusan tertentu).

Waktu yang dulu, ketika saya telah lulus kuliah saya pergunakan untuk main-main di rumah, sekarang sudah berkurang. Waktu yang dulu, ketika saya masih single saya pergunakan untuk keluyuran gebet sana gebet sini, sekarang sudah tak ada :v (ini (tidak) bohong). Namun sekarang, tentu saja semuanya berubah. Bahkan ketika saya mulai merasakan ada kehidupan dalam Rahim saya, rasanya sungguh luar biasa :’)

Alhamdulillah, kata dokter umurnya 9 Minggu. Masih masa “rentan” kalau mereka bilang. Jadi, harus dijaga baik-baik. Bagi saya, tentunya menjadi pengalaman baru. Mual, muntah, pusing, males, baru gerak dikit kecape’an, manja sama suami, pengen ini itu, posisi tidur rasanya semua salah, baju rasanya sempit semua di perut padahal sudah longgar, dan masih banyak lagi. Untuk menulis ini saja saya perlu berganti posisi entah berapa kali, karena punggung tak bisa diajak kompromi duduk lesehan berlama-lama.


Awalnya saya panik, serba salah. Alhamdulillah, kalau semua dijalani dengan ikhlas rasanya sangat menyenangkan karena saya tidak pernah sendiri. Ada yang menemani saya di dalam tubuh saya. Semoga kamu baik-baik di sana ya, sayang :*

waiting you grow up ....

30 Juni 2013

Curahan "Nguawur"

Sudah lama ya, hmm iya sepertinya lama sekali tidak berbagi cerita di sini.

"Apa? Berbagi cerita katamu?"

"Iya  berbagi cerita," kataku sambil malu-malu.

Dan seperti kamu bisa menebak apa yang aku pikirkan kamu berkata kembali, "berbagi cerita apa curhat?"

Aku diam. Lantas menganggukkan kepala. *ngigau bersama bayangan--sekilas info

Aaaak bingung mau nulis dari mana. Gini ni kalau sudah lama gak ketak ketik panjang. Bisanya cuman buat status facebook dan twitter hehe.

Untuk permulaan, mungkin segini dulu ya :v saya bingung mau ketak ketik dari mana. Atau mungkin dari sini *nunjuk hati. Eit, hati saya ternyata sudah ada yang punya. Sudah ada yang mengisi. Terima kasih, suamiku :P