06 Desember 2010

Relasi Makna: Homonimi dan Hiponimi

1. Pemetaan Materi Diskusi

2. Rumusan Hasil Diskusi
2.1. Homonimi
Homonimi (Inggris: homonymy) berasal dari bahasa Yunani Kuno,
onoma = nama
homos = sama
Secara harfiah homonimi bermakna nama sama untuk benda yang berlainan. Jadi, homonimi merupakan hubungan dua kata atau lebih yang secara kebetulan memiliki pola bunyi yang sama, tetapi maknanya berbeda. Hubungan homonimi berlaku timbal balik.



2.2. Hiponimi
Hiponimi (Inggris: hyponymy) berasal dari bahasa Yunani Kuno,
onoma = nama
hypo = di bawah
Secara harfiah hiponimi adalah nama yang termasuk di bawah nama lain. Jadi hiponimi merupakan hubungan semantik antara makna spesifik dan makna generik, atau antara anggota taksonomi dengan nama taksonomi (Kridalaksana, 1993:74 dalam Wijana, 2008:67). Hiponimi bersifat searah.

3. Pengembangan Materi
3.1. Homonimi
Homonimi dibagi menjadi dua jenis;

3.1.1. Homografi
Kesamaannya terletak pada keidentikan ortografi (tulisan dan ejaan). Misalnya;
Karena mengikuti program diet, makan malam Dina adalah apel.
Setiap malam Minggu tiba, Azis mengapeli Vina.
Apel dalam kalimat pertama bermakna ‘nama buah’ dan apel pada kalimat kedua bermakna ‘pertemuan (menemui)’, memiliki ortografi yang sama.

3.1.2. Homofoni
Letak kesamaannya terdapat pada keidentikan bunyi dan pelafalan. Misalnya;
Ibu menanam kol di pekarangan rumah.
Pak haji Tamrin baru saja membeli mobil colt.
Kol bermakna ‘nama sayuran’ dan colt bermakna ‘mesin berdiesel’, memiliki bunyi dan lafal yang identik.

Homonimi bersifat timbal balik, artinya jika ada kata X berhomonimi dengan kata Y, maka kata Y berhomonimi dengan kata X. Contoh;
Kamu pasti bisa meraih peringkat itu. (bisa bermakna ‘dapat’)

skema 'dapat' dan 'bisa'

Klasifikasi Homonimi



Proses afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada bentuk dasar untuk membentuk kata polimerfemik. Misalnya kata mengarang yang bermakna ‘menyusun dan membuat karangan’ berhomonimi dengan kata mengarang yang bermakna ‘menjadi arang’, dan juga dengan mengarang yang bermakna ‘menjadi karang’.

Kata baru yang dimaksudkan di sini adalah kata-kata asing yang diserap atau dipungut dan menjadi bahasa Indonesia yang dipergunakan untuk mengungkapkan konsep-konsep baru di berbagai lapangan kehidupan. Kata-kata asing yang dipungut lazimnya mengalami proses adaptasi di dalam pengucapannya. Sebagai contoh misalnya kopi. Masuknya kata bahasa Inggris copy ke dalam bahasa Indonesia menimbulkan pasangan homonimi baru karena bentuk adaptasinya kopi yang bermakna ‘nama pohon dan bijinya yang telah digoreng, ditumbuk untuk dijadikan minuman’, dan ‘tiruan gambar’.

Penyingkatan adalah proses pemendekan bentuk yang dianggap panjang atau terlalu panjang dengan cara penggabungan huruf awal menjadi bentuk baru yang lebih pendek sehingga lebih mudah diucapkan. Misalnya PM singkatan dari ‘Perdana Menteri’ dan berhomonimi dengan PM ‘Polisi Militer’. Pengakroniman adalah penyingkatan dengan gabungan huruf awal, gabungan suku kata, atau gabungan kombinasi huruf dan suku kata dari deret kata yang ditulis serta dilafalkan sebagai kata yang wajar (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1979:24 dalam Wijana, 2008:61). Misalnya akronim jagung ‘jaksa agung’ yang berhomonimi dengan jagung ‘nama buah’.

Gejala bahasa adalah peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata, atau kalimat dengan segala macam proses pembentukannya (Badudu, 1980:47 dalam Wijana, 2008:62). Bila dikenakan pada proses pembentukan kata, gejala bahasa berhubungan dengan proses penambahan, penghilangan, pertukaran letak, dan perubahan fonem sebuah kata.

Gejala penambahan fonem dapat terletak di depan (protesis), misalnya agung ‘besar atau mulia’ dan agung ‘tiruan bunyi’ yang semula berasal dari gung. Gejala penambahan di belakang (paragoge), misalnya gajih ‘lemak yang diambil dari bahasa Jawa’ dan gajih ‘upah kerja yang dibayar dalam waktu yang tetap’ yang sebelumnya mengalami gejala paragoge dari bentuk baku gaji. Gejala penambahan di tengah (epentesis), misalnya bahana yang memiliki tiga anggota pasangan, yaitu bahana 1 ‘bunyi (suara) nyaring’, bahana 2 ‘terang atau nyata’, bahana 3 ‘oleh karena’ yang semula berasal dari bahna.

Gejala penghilangan fonem dapat terletak di depan (aferesis), contohnya aus 1 ‘susut karena tergosok atau kerap dipakai’ dan aus 2 ‘dahaga’ yang semula berasal dari haus. Gejala penambahan di tengah (sinkope), misalnya basa 1 ‘nama jenis persenyawaan dalam kimia-fisika’ dan basa 2 ‘bunyi yang dipakai untuk melahirkan pikiran dan perasaan’ yang semula berasal dari bahasa. Gejala penambahan di belakang (apokope), contohnya akas yang memiliki tiga anggota pasangan, yakni akas 1 ‘tangkas gerak-geriknya’, akas 2 ‘kebalikan atau lawannya’, dan akas 3 ‘angkasa atau awang-awang’ yang sebelum mengalami apokope berbentuk akasa, dan akasa sendiri sebelum mengalami proses sinkope berbentuk angkasa.

Gejala perubahan fonem lazimnya hanya digunakan di dalam bahasa percakapan, sehingga kata-kata yang dihasilkan menyimpang dari bentuk asalnya. Contohnya syah ‘raja atau baginda raja’ dan syah ‘sudah dilakukan menurut hukum (undang-undang atau peraturan)’ yang sebelumnya mengalami proses perubahan fonem berbentuk sah.

Gejala pertukaran atau perpindahan letak fonem atau fonem-fonem yang menyusunnya. Misalnya padam ‘mati atau tidak menyala’ yang sebelumnya mengalami proses metatesis dari padma ‘teratai merah’. Terjadinya metatesis itu menyebabkan padam memiliki kehomonimian. Padam 1 ’mati atau tidak menyala’, padam 2 ‘merah menyala’, dalam klausa karena marah, muka Amir merah padam.

Homonimi dapat terbagi atas beberapa jenis (Verhaar, 1983:135-136 dalam Pateda, 1989:212):
• Homonimi yang terjadi antarmorfem. Misalnya, mengarang ‘membuat karangan’ dan menngarang ‘menjadi karang (batu)’.
• Homonimi yang terjadi pada antarkata. Misalnya, keranjang ‘tempat/ wadah’ dan ke ranjang ‘ke tempat tidur’.
• Homonimi yang terdapat pada antarfrasa. Misalnya, durian runtuh ‘buah durian yang jatuh dari pohonnya’ dan durian runtuh ‘keberuntungan’.
• Homonimi yang terdapat pada antarkalimat. Misalnya, Rudi menabrak kucing mati ‘dengan parafrase yang mati Rudi’ dan Rudi yang menabrak kucing itu mati ‘dengan parafrase yang mati kucing yang ditabrak’.

3.2. Hiponimi
Hiponimi bersifat searah, artinya jika ada kata X berhiponimi dengan kata Y, maka kata Y tidak dapat dikatakan berhiponimi dengan kata X. Misalnya,
Ayah ke Surabaya naik kereta api. (kereta api hiponim dari kendaraan)



Hiponimi terbagi atas dua jenis;
3.2.1. Kohiponim adalah hubungan antar anggota taksonomi. Contohnya kendaraan memiliki anggota hiponim kereta api, motor, mobil, sepeda, becak. Relasi makna dari anggota taksonomi itu disebut kohiponim.

3.2.2. Hiperonim adalah hubungan makna kata generik (nama taksonomi) dengan nama spesifik. Misalnya,
perabot      =   kursi
(hiperonim)   (hiponim)

Tidak ada komentar: